A Hero Comes Home (Above)
Kepada Bapak Mohammad Soeharto (Alm), sekarang saya akan mendahului orang-orang yang masih berdebat mengenai dosa/jasa anda, orang-orang yang sekarang asik melengkapi biografi anda dengan chapter terakhirnya (yang mungkin sudah terbit besok subuh), dan pemerintah hendak mengadakan rapat DPR karena bingung dengan gelar anda setelah anda meninggal.
Saya nyatakan bahwa anda adalah PAHLAWAN.
Masyarakat tidak memerlukan rapat DPR untuk menyatakan anda KORUPTOR, yang dibutuhkan hanyalah BERITA bahwa anda telah melakukan korupsi. Kenapa sekarang dibutuhkan rapat untuk menentukan anda pahlawan atau bukan?
Yang saya tahu, anda telah membangun Indonesia selama lebih dari 32 tahun, ikut perang melawan penjajah, bergerilya, dst. Semua itu membuat anda pantas untuk mendapatkan anda gelar PAHLAWAN PERANG dan PAHLAWAN PEMBANGUNAN.
Saya tidak peduli bahwa anda adalah orang yang mempopulerkan istilah KKN di telinga kawan-kawan saya yang waktu itu masih tenang-tenang di bangku SD, karena hal itu adalah urusan anda dengan Allah, dan seperti pepatah yang bilang bahwa manusia hanya meninggalkan namanya setelah dia meninggal, maka nama Bapak pun akan tertulis di buku sejarah yang akan terus dibaca hingga bertahun-tahun mendatang.
Dalam sejarah Indonesia, Bapak telah membangun, menghancurkan, menghidupkan dan membunuh. Buku-buku tersebut mungkin akan menyebutkan bahwa Bapak adalah PENJAHAT, namun dalam buku yang saya tulis (bila ada) maka Bapak masih akan menemukan kata PAHLAWAN.
Dan semoga amal baik mu diterima di sisi-Nya,
Amien

Februari 3, 2008 pada 9:09 am
Kalau kejahatannya adalah urusannya dengan Allah, lalu kenapa kebaikannya tidak diposisikan pula sebagai urusan dengan Allah? Kalau memakai pandangan anda, maka semestinya titel pahlawan atau penjahat tidak perlu diberikan kepada eyang ini. Biar Allah yang ngurusin. Jadi saya pikir tulisan anda ini tidak konsisten.
Bagi saya, urusan orang dengan manusia mesti diselesaikan juga dengan manusia. Karena itu saya maafkan dia atas kesalahan yang dia lakukan sebagai seorang manusia, tapi saya akan ceritakan kebaikan dan kejahatannya pada anak cucu saya, agar mereka tidak terjebak pada pemikiran sesat yang tak sesuai fakta sejarah. Proses hukum selanjutnya – di alam kubur dan di akhirat – saya tidak tahu lagi, biar Allah yang menyelesaikan.
Maret 6, 2008 pada 3:47 pm
well, bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai jasa pahlawannya…. (dan tentu harus bisa mengenal siapa pahlawannya)
Kita harus proporsional dalam menempatkan posisi Pak Harto. Di satu sisi Pak Harto memang seorang pahlawan dan di sisi lain mungkin beliau adalah seorang penjahat. Ya, tak ada gading yg tak retak…
Andai Pak Harto tidak ada, mungkin Irian sudah bukan bagian dari Indonesia (ingat beliau adalah Panglima Mandala, pelaksana Operasi Mandala Trikora). Mungkin kemajuan-kemajuan yg Indonesia pernah capai pada masa Orde Baru nggak pernah ter-realisasi sama sekali.
Indonesia tidak akan lepas dari jeratan kebodohan & buta huruf yang tidak bisa ditekan oleh Bung Karno selama 20 tahun pemerintahannya. Pak Harto bisa memangkas angka illiteracy dari 70% pada tahun 1970 hingga hanya 10% pada tahun 1990.
Pak Harto memang sudah selayaknya diberikan gelar Pahlawan Nasional. Mungkin saat ini sedang dalam proses karena pengajuan gelar Pahlawan tidak semudah mengesahkan Undang-Undang. Bung Karno saja sebagai Founding Father dari Indonesia membutuhkan waktu 16 tahun dihitung dari kematiannya (1970) untuk mendapatkan gelar Pahlawan.
Ketika mereka yg merasa tersakiti selama masa pemerintahan Pak Harto sudah mulai memaafkan kekhilafan Almarhum, saat itulah Bangsa Indonesia bisa dengan besar hati mengakui kepahlawanan beliau.
Lagi aku percaya seorang Pahlawan Sejati tidak membutuhkan sebuah gelar atau penghargaan dari pemerintah. Ia akan sangat senang jika namanya masih hidup di sanubari rakyat – kepada siapa ia mendedikasikan hidupnya.
**Mungkin Pak Harto akan tersenyum kalau beliau bisa membaca tulisan Tara dari alam sana
Mei 24, 2008 pada 1:45 am
Aku pengen serukan,,kita jangan jadi bangsa yang MUNAFIK!!!!!!!!!!Kita ini telah menikmati 32 tahun perjuangan beliau semua harga2 murah,,,apalagi duetnya dengan Alm.Ibu Tien Soeharto telah berhasil melakukan pembangunan di sana sini,,tetapi apa kita ini???kita bagai kacang lupa kulitnya,bagai anak durhaka,setelah menikmati semua kita malah menjatuhkan beliau
Dahulu indonesia bak singa di hutan,bak Hiu di lautan,kita di segani oleh dunia,itu semua karena pak harto.Gak akan ada lagi orang yang seperti beliau.Kita telah gagal dengan reformasi,reformasi ga bawa apa2 buat bangsa ini….
Mana itu AMIEN RAIS ITU!!!mana juga mahasiswa yang dulu demo menurunkan pak harto???sang pelopor demokrasi lempar batu sembunyi tangan,ingat kita ini bangsa timur bukan eropa,apalgi AMERIKA,sistem kayak gitu tidak cocok di indonesia.cuman gara2 modal nasi bungkus,rokok ma duit langsung menurunkan pemimpin yang “the real leader” akibatnya???????SPP naik,BBMnaik,semua!!!
Wahi bangsa indonesia,ingat jasa2 beliau,dan buat mahasiswa yang waktu itu demo,,NGACA DONK!!!!!NAGACA!!!!!!
Juni 18, 2008 pada 5:51 am
essay yang bagus…..
ambil sisi baik dari seorang pemimpin dan contoh keberhasilan-keberhasilannya
tinggalkan yang tidak baik dan jadikan pelajaran yang sangat berharga..simple aja…
Desember 18, 2009 pada 4:58 am
jendral besar memang pahlawan,….
mga d terima di sisi-Nya.. amien…