Brain Drain di Indonesia

Buat yang nggak tau, Brain Drain adalah istilah fenomena dimana tenaga-tenaga ahli di negara berkembang diserap untuk bekerja di negara maju, kasus yang banyak terjadi di Vientam, India, Indonesia dan banyak negara-negara berkembang lainnya. Pendapat orang berbeda-beda soal hal ini. Ada yang pro dengan alasan globalisasi dan kontra dengan alasan nasionalisme, dll.

Saya sendiri merupakan kategori yang kontra karena beberapa alasan dibawah ini (sebelumnya, saya minta maaf untuk kalian2 yang lagi atau ada rencana bekerja di LN, saya hanya mengemukakan pendapat saya loh, no offense ya)….

1st of all, ini masalah ekonomi. Yoi, mungkin kalian berfikir bahwa ekonomi hanya mencakup keuangan belaka. Salah! Masalah tenaga kerja juga merupakan isu ekonomi yang paling utama, terutama Makroekonomi (Ekonomi Negara). Bolehlah kita bilang bahwa lapangan pekerjaan di Indonesia semakin sempit sehingga bekerja di luar negeri adalah pilihan yang baik, toh kenyataannya memang begitu. Tapi, sadarkan bahwa justru karena itu anda-anda dibutuhkan? Justru pada saat ini yang namanya entrepreneurship seharusnya dibina, untuk menciptakan lapangan pekerjaan! Atau anda bisa masuk perusahaan lokal dan membangunnya menjadi lebih besar dan menyerap lebih banyak tenaga kerja, sama pahalanya!

2nd of all, masalah nasionalisme. Klise, old-news, memang agak kuno, tapi toh ternyata kita masih bergelut dengan yang satu ini. Loh, buktinya kita masih dipertanyakan nasionalismenya kan?

Buat kawan-kawan sekalian yang memutuskan minggat ke LN, memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Toh dunia kerja di Indonesia memang lebih bagaikan cerita horor daripada kerja di LN. Mulai dari gaji kecil, kemanan tidak terjamin, insentif-insentif perusahaan yang lebih pelit, permainan kotor, sampai kesempatan berkembang yang sedikit. Tapi bisakah kita sedikit bersabar? Bumi berputar, generasi berputar! Rekan-rekan yang mungkin baru (atau akan) lulus kuliah kelak dalam 2 dekade kedepan adalah pemimpin-pemimpin yang rata-rata sudah mapan. Mungkinkah keadaan Indonesia berubah? Mungkin!

Karena siapa? Siapa lagi kalau bukan kita?

Bagaimana anak-anak kita kelak melihat orang tuanya? Sebagai pembangun bangsa, atau orang asing di negeri orang?

Karena mungkin kelak mereka akan mengucapkan cita-cita kita dahulu: “Jadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara”. Saat inilah kita seharusnya mewujudkannya!

Tinggalkan Balasan